Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Detik Terakhir

Kisah Klasik

Menulis sebuah kisah klasik yang mudah basi karena tidak pernah disiahkan. Basi ketika kenyataan merubah manis menjadi kepahitan. Ya, ada masa dimana aku dan kenangan merekat bagai makhluk bersimbiosis mutualisme. Bagai tanaman benalu dengan inangnya. Bagai kupu-kupu dengan bunganya. Bagai kerbau dengan jalaknya. Namun tak jarang, sering malah, kenangan menjadi benalu yang meresahkan. Bukan lagi saling menguntungkan. Ah diam! Apa yang bisa diubah dari kenangan? Selain perjalanan hidup yang harus terus diperjuangkan.  Sesekali merenggut kenyataan yang telah terlewatkan. Merenggut kembali rasa sakit yang pernah diingkarkan. Ada kalanya, semua itu dihadirkan dalam setiap aksi perjuangan. Memicu, membangkitkan gelora penuh kenikmatan. Benci yang nikmat, marah yang nikmat, sayang yang nikmat, malu yang nikmat. Ya, basi memang. Kenikmatan dalam kisah klasik, basi! Tak pantas disimpan, tak pantas disebut klasik karna tak bermutu, tak berseni, tak bernilai tinggi. Terdiam. Kenapa s...