Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Kisah Klasik

Menulis sebuah kisah klasik yang mudah basi karena tidak pernah disiahkan. Basi ketika kenyataan merubah manis menjadi kepahitan. Ya, ada masa dimana aku dan kenangan merekat bagai makhluk bersimbiosis mutualisme. Bagai tanaman benalu dengan inangnya. Bagai kupu-kupu dengan bunganya. Bagai kerbau dengan jalaknya. Namun tak jarang, sering malah, kenangan menjadi benalu yang meresahkan. Bukan lagi saling menguntungkan. Ah diam! Apa yang bisa diubah dari kenangan? Selain perjalanan hidup yang harus terus diperjuangkan.  Sesekali merenggut kenyataan yang telah terlewatkan. Merenggut kembali rasa sakit yang pernah diingkarkan. Ada kalanya, semua itu dihadirkan dalam setiap aksi perjuangan. Memicu, membangkitkan gelora penuh kenikmatan. Benci yang nikmat, marah yang nikmat, sayang yang nikmat, malu yang nikmat. Ya, basi memang. Kenikmatan dalam kisah klasik, basi! Tak pantas disimpan, tak pantas disebut klasik karna tak bermutu, tak berseni, tak bernilai tinggi. Terdiam. Kenapa s...

Raja Wali dan Wali Raja (1)

Seekor rajawali mulai mengepakan sayapnya ketika ia membuka mata. Matanya yang tajam menjalang ke segala arah dan mencari mangsa. Mungkin ia sudah lapar, mungkin ia bingung mencari santapan. Bersamaan dengan itu, wali raja terbangun dari tidurnya. Ia menguak jendela kamarnya dan menghisap aroma embun basah yang masih renyah. Ia kembali merasakan nikmat duniawi setelah sempat mati suri. Ia bersyukur pada Ilahi. Ia beranjak meninggalkan ambang jendela dan menghabiskan santapan yang telah disediakan begundalnya. Sang wali raja gundah hendak melakukan apa. Namun ia lebih pandai dari sekedar menangkap buruan. Toh ia punya begundal, lantas untuk apa repot-repot menangkap buruan dengan tangannya sendiri? Ia menatap secarik dluwang di atas meja yang ia singgahi tadi. Ia baca teks-teks yangg ada di dalamnya. "Hahaha, goblok! Ada apa dengan Manuk Siluk?" Ia kembali membaca, memastikan semua benar adanya. Selesai membaca ulang dluwang itu, wali raja pergi meninggalkan istana. Ia perg...
"SEPASANG" Oleh: Novita D Prasetyowati Lihat di dekat muara bening di ujung pancaran senja yang masih setia menyala Sepasang burung terbang, riang, tanpa beban Terlihat indah bak permadani terbang Sulaiman Allaihi Salaam Tenang, teduh, tenteram Iya, tatap kelokan laju mereka, saling mendahului, saling bercanda Sekali ada seekor burung yang lain, ia sapa, namun tetap saling menjaga, dan tak saling curiga Lihat sepasang bola bening penghasil cairan tiada berwarna namun berasa Gurih perisa terasa setelah duka Ya, mereka memang saling bersanding meski tak saling memandang untuk saling menjaga Lihat sepasang panjang penjangkar ini Ia diikuti cabang-cabang kecil disatu ujungnya, yang paling rendah, yang paling bawah Tapi lihat, cabang yang dikata kecil ini dapat saling bergandengan, berpelukan dan saling memberi kehangatan Mereka saling bersama meski tak saling disamakan. Sepasang memang indah Sepasang selalu terlihat indah Sepasang tetap yang terindah Sepas...

Bulan Bahasa Sastra Indonesia, FIB, UGM 2013

BULAN BAHASA KMSI 2013 (TUMPEH-TUMPEH)             Bulan Bahasa adalah acara tahunan yang di selenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI). Bulan Bahasa tahun ini mengangkat tema   “ Meneropong Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia Masa Kini ”. Rangkaian acara Bulan Bahasa terselenggara dari tanggal 16 Oktober 2013 hingga 26 Oktober 2013. 16 Oktober 2013 adalah acara pembukaan yang di laksanakan di panggung terbuka (Pangter) FIB, UGM. Pembukaan acara ini ditandai dengan diterbangkannya puluhan balon secara besama-sama. Selain menerbangkan balon, pada hari yang sama juga terdapat pembacaan puisi oleh mahasiswa dan dosen Sastra Indonesia,   Muhammad Hamdan Mukafi   dan Bapak  Heru Marwata . Selepas acara pembukaan dan pembacaan puisi, dilanjutkan dengan bedah buku antologi cerpen mahasiswa Sastra Indonesia berjudul “Menunggu Pagi” berisi sepuluh cerpen pilihan. Bedah buku antologi cerpen...
BERTEPUK SEBELAH TANGAN Oleh: Novita D Prasetyowati Tuhan, ketika seorang wanita pergi meninggalkan laki-lakinya dengan alasan agar saling menjaga, apakah itu benar dari dalam hatinya? Lalu harus seperti apa aku menyampaikan ketidakterimaanku sebagai lelakinya? Aku hanya bisa diam, kelak dia akan menyadari ketidakmasukakalan yang dia tentukan. Namun, diam bukan cara yang tepat bagi laki-laki yang menginginkan cintanya. Cinta dari perempuan idamannya. Anisa Zahara. Aku terpaksa diam dan tetap meninggalkan mu. Maaf, aku hanya tidak menginginkan rasa sakit itu semakin bertambah. Aku tahu keinginan ini menyakiti kamu. Aku percaya, apa yang ada didalam hatimu saat ini adalah kecewa. Maaf karena keputusan ini menjadi sebuah akhir dari segala cerita. Cerita yang sempat kita  jalani bersama. Fahmi Zacky. Mengenalmu adalah kebahagiaan yang tiada kentara terasa. Bertemu ditepi jalan, bersimpuh, bercanda. Kau ingat waktu itu, setahun lalu. Iya setahun lalu. Kau duduk paling...