Langsung ke konten utama

BERTEPUK SEBELAH TANGAN
Oleh: Novita D Prasetyowati

Tuhan, ketika seorang wanita pergi meninggalkan laki-lakinya dengan alasan agar saling menjaga, apakah itu benar dari dalam hatinya? Lalu harus seperti apa aku menyampaikan ketidakterimaanku sebagai lelakinya?
Aku hanya bisa diam, kelak dia akan menyadari ketidakmasukakalan yang dia tentukan. Namun, diam bukan cara yang tepat bagi laki-laki yang menginginkan cintanya. Cinta dari perempuan idamannya. Anisa Zahara.
Aku terpaksa diam dan tetap meninggalkan mu. Maaf, aku hanya tidak menginginkan rasa sakit itu semakin bertambah. Aku tahu keinginan ini menyakiti kamu. Aku percaya, apa yang ada didalam hatimu saat ini adalah kecewa. Maaf karena keputusan ini menjadi sebuah akhir dari segala cerita. Cerita yang sempat kita 
jalani bersama. Fahmi Zacky.

Mengenalmu adalah kebahagiaan yang tiada kentara terasa. Bertemu ditepi jalan, bersimpuh, bercanda. Kau ingat waktu itu, setahun lalu. Iya setahun lalu. Kau duduk paling belakang dari sebuah rotasi kebersamaan dan aku pun sama karena sebuah keterlambatan. Muka songongmu serupa dengan muka sadisku. #kata orang. Namun ketika kita saling menyebut nama, mengenal satu dengan yang lain, dan tertawa bersama maka seketika itu juga aku bahagia. Waktu semakin tua, mawar semakin layu, begitu pun perasaan angkuh karena kepergian menjadi luluh, karena mengenal kamu. Bahkan ketika waktu memertemukan antara aku dan kekasih masa lampau, masih bayangmu yang menemarami ingatanku. Aku suka itu. Sebelum aku benci semua ini.

11 April 2013, kamu berkata masih dengan kata yang sama. Kata dengan nada kesombongan dan keangkuhan. Kamu menggertak ingin pulang meninggalkan persinggahan yang ada akunya. Ya, karena kenyataannya aku tak pernah berarti.

15 Mei 2013, kamu masih saja diam. Padahal ditempat ini, aku menginginkan penjelasan. Seperti aku yang mengekang sebuah keputusan. Namun keputusan itu juga yang terbaik untukmu. Masih menunggu dan tetap menunggu.

30 November 2013, aku belum lelah dengan penantian. Kini ditempat yang semakin terasa sepi tanpa adanya kamu (lagi), aku dan semua itu terbakar. Kau tahu betapa panasnya raga yang bersetubuh dengan bara? Itu adalah aku. Kau tak pernah tahu, karena waktu ini, kau mungkin sedang bersetubuh dengan air. Dan aku masih tetap saja menanti hal yang tak pasti.

02 Desember 2013, aku mulai kehilangan daya. Jiwa ku semakin hari semakin tersungkur dan merapuh. Aku lelah menanti hujan diawal kemarau. Aku lelah menunggu kamu yang tak lagi beradu pandang dengan aku. Aku lelah menunggu kebakaran hutan Peshtigo padam dengan sendirinya. Aku menyerah.

05 Desember 2013, sekian hari sekian sulit, namun pasti. Kepergian yang tetap menjadi pilihan tanpa penjelasan. Ya, kerinduan yang saat ini aku rasakan. Namun tetap pada kekecewaan dan tak lagi menikmati rasa penasaran yang berbulan-bulan tak mendapat umpan.

08 Desember 2013, saat note ini belum selesai ku tulis. Sebuah pesan menghantam layar teleponku. Tak hanya itu, ia juga meluluhlantahkan beberapa kenangan yang sedang tercurah dari isi pikiran. Ya, kamu kembali datang dan membawa kabar kebahagiaan. Kamu datang dengan sebuah penjelasan yang tak lagi aku inginkan. Brengsek.

09 Desember 2013, kamu semakin busuk.

10 Desember 2013, apa lagi?

Berakhir pada 09 Desember 2013, kamu datang dan memberi ucapan selamat kepadaku. Ucapan selamat atas hari jadiku, sembilan hari yang lalu. Kamu kembali datang seolah tidak pernah terjadi perubahan dalam hidupku. Kamu merengkuh tubuhku dipelukanmu, seolah tak tahu deritaku. Kamu memang tak pernah tahu. Karena pesan itu tak pernah sampai kepadamu. Bahkan radarnya tidak cukup kuat untuk menembus bayangmu. Bayang tubuhmu. Bayang yang terampas dari tanganku. Selamat untukmu Dewi Anugraheni. Seperti namamu, kali ini kamu mendapat anugerah. Anu... Gerah untuk batinku.
Untuk yan terakhir, aku hantamkan sebuah pesan di ponselmu. 
"Datang dengan sebuah genggaman baru, maka aku pergi untuk menjaga genggaan itu. Terimakasih."



Yogyakarta, 09 Desember 2013

Gambar Ilustrasi By: 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENYUM

#Senyum. Adalah satu kata indah yang sulit dilakukan tatkala hati gundah. Memang sejatinya senyum itu mudah, tapi senyum manis tidaklah mudah. Senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum yang menggambarkan betapa istimewa saat itu, hingga kita lupa perasaan bersedih. Ya, senyum memang mudah dilakukan, tapi senyum manis adalah pilihan dan tidak mungkin tidak dilakukan. Itu karena, senyum dapat merepresentasikan berbagai macam rasa.   Senyum terklasifikasi menjadi dua, yaitu senyum manis dan senyum kecut. Seperti keterangan di atas, senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum karena perasaan senang. Namun, senyum manis tidak hanya terlihat pada sunggingan bibir yang membentuk bulan sabit, bisa juga disertai air tangis. Itu, seperti senyum seorang tukang becak yang mendapat penumpang setelah menunggu lama sampai beberapa kali tertidur, senyum orang-orang yang tertawa bahagia bersama kawan-kawannya, senyum tangis orang tua tatkala menyambut kepulangan anaknya yang merantau ...

Tentang cintaku dan cintanya untukmu

Tentang cintaku dan cintanya untukmu                 Awalnya, terasa sulit bagiku untuk memulai ini semua.  Memulai hidup baru dengan kekosongan bukan kenestapaan. Mungkin duka, bukan lara. Ini antara kita. Ya, aku, kau, dan mereka... Tentang cintaku dan cintanya untukmu.  Tentang hati yang terasa sedikit ngilu bukan pilu. Ada satu kisah tentang sebuah perjuangan. Tentang sebuah cinta yang tulus namun tak lagi berarti. Tentang pahlawan karena keberuntungan. Maafkan cintaku yang tak sepenuh cintanya untukmu. Maafkan ketidakberdayaanku dalam mempertahankan cintaku padamu. Ini tentang aku, kamu dan mereka. Ini tentang cinta.                 Aku menemukan cinta baru di pertengahan semester awal. Aku mendambakan kabahagiaan dari cinta yang mulai aku tanam. Sesekali aku kembali memungut butir-butir cinta yang mulai hilang terma...

Niat Halal Bi Halal Berujung Ketemu Dr. Aisyah Dahlan di UMS

Berkah ramadan. Sebuah frasa yang patut ku syukuri dari ramadan 1447H dan kurasa perlu diabadikan dalam cetak-cetik Novita ini. hihihi...  Haloha... Eh nongol juga postingan baru di sini. Tandanya apa? Pemilik blogspot ini masih ada di dunia ya... Karena setelah tiga tahun menghilang, ada lagi nih cetak-cetik yang bisa dibaca. Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menuangkan isi kepala, di tengah gedebak-gedebuk dunia yang cukup menyita akal dan tenaga.  Yaaa semoga bisa konsisten nulis lagi, tapi lagi-lagi ngga janji. hihi... Karena jujur, mengekspresikan diri lewat tulisan (semi-privasi) sekarang terasa seperti mendapat tantangan. Apalagi setelah adanya medsos yang memberi wadah untuk mengabadikan momen dengan lebih mudah. Alhasil, isi hati dan pikiran terbungkam, kreativitas dan kemauan menyalurkannya lewat tulisan terpendam. Kegiatan yang dulu menyenangkan dan jadi hobi, lama kelamaan terlupakan. Huft. Oke cukup, sekarang kembali fokus ke judul ya... Senin, 30 Maret 20...