Tentang
cintaku dan cintanya untukmu
Awalnya, terasa sulit bagiku untuk memulai ini semua. Memulai hidup baru
dengan kekosongan bukan kenestapaan. Mungkin duka, bukan lara. Ini antara kita.
Ya, aku, kau, dan mereka... Tentang cintaku dan cintanya untukmu. Tentang
hati yang terasa sedikit ngilu bukan pilu. Ada satu kisah tentang sebuah
perjuangan. Tentang sebuah cinta yang tulus namun tak lagi berarti. Tentang
pahlawan karena keberuntungan. Maafkan cintaku yang tak sepenuh cintanya
untukmu. Maafkan ketidakberdayaanku dalam mempertahankan cintaku padamu. Ini
tentang aku, kamu dan mereka. Ini tentang cinta.
Aku menemukan cinta baru di pertengahan semester awal. Aku mendambakan
kabahagiaan dari cinta yang mulai aku tanam. Sesekali aku kembali memungut
butir-butir cinta yang mulai hilang termakan kuyang. Ya, Kuyang! Kau tahu apa
itu kuyang? Kuyang adalah semacam setan. Setan yang suka menghisap darah orang
hamil atau yang baru melahirkan. Ya, entah *kamu, entah *dia, entah *mereka.
#Kau. Semua sama saja, suka menghisap daya dari orang yang tak berdaya. Lihat
dia! Dia yang baru saja melahirkan, kenapa kau hisap darahnya? Tidakkah sedikit
saja kau ikut merasakan kebahagiaan atas lahirnya buah cinta mereka? Bahkan,
kau juga tidak sedikit pun mengiba padaku yang baru merasakan manisnya mahligai
perkawinan. Aku belum sempat kahwin! Aku belum sempat bunting. Kau juga tega
menghisap dayaku. Kau menghisap semua ovum yang belum sempat dibuahi! Belum
sempat membentuk calon anak atas buah cinta dan perjuangan selama ini!
Awalnya, aku diam dan menurut apa katamu wahai baginda Syah Alam Nan Berkuasa
Sejagat Raya Bagundal Sultan
Harun Ar-Rasyid yang maha esa. Jangan mendelik! Kamu memang yang maha esa. Kamu
adalah “orang” yang maha kuasa. Maha bijaksana. Hatta, maka Qodhi pun diam.
Hah! Seolah ada kepalsuan dari sangsi yang diberikan. Nyatanya, ini semua jujur
apa adanya. Tentang cinta yang hilang. Tentang kegelisahan. Tentang
kekhawatiran. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Cinta adalah rasa yang sangat didambakan setiap insan. Termasuk aku! Mencintai
dan dicintai adalah sebuah proses yang panjang dan abadi. Namun tidak seabadi
pengorbanan cintaku untukmu. Maaf, untuk sekarang, aku meninggalkan bayangmu
walau secercah bayang semu. Maaf, untuk tulus cinta yang perlahan melebur dan
mulai terkungkung dalam cinta yang baru. Untukmu yang tidak peka, acuh, dan
tidak menilik sedikit pun kepadaku, maka aku menjauh dan meninggalkanmu. Ini
bukan salahmu. Sekali lagi ini bukan salahmu. Ini adalah wujud ketidakberdayaanku.
Ini adalah wujud kegagalanku dalam mempertahankan cintamu. Sekali lagi ini
salahku. Ku harap, kau mampu tumbuh dengan kekasih yang baru. Dengan kekasih
sejatimu kelak kau akan terlukis meski hanya dalam kalbu.
“Mengapa
terjadi, kepada dirimu? Aku tak percaya kau telah tiada. Haruskah ku pergi,
tinggalkan dunia. Agar aku dapat berjumpa denganmu.” Senandung yang mampu
menjebol selaput di mataku (dulu). Kini, senandung itu aku rubah sebegini
adanya. “Mengapa terjadi, kepada dirimu? Aku tak percaya kau telah tiada.
Sekarang ku pergi, tinggalkan dunia. Agar aku dapat menunggu cintamu.” (Dalam
sujudku, sempat terucap namamu). “Semoga yang terbaik tercurah untukmu”.
Komentar
Posting Komentar