Langsung ke konten utama

Tentang cintaku dan cintanya untukmu

Tentang cintaku dan cintanya untukmu
                Awalnya, terasa sulit bagiku untuk memulai ini semua.  Memulai hidup baru dengan kekosongan bukan kenestapaan. Mungkin duka, bukan lara. Ini antara kita. Ya, aku, kau, dan mereka... Tentang cintaku dan cintanya untukmu.  Tentang hati yang terasa sedikit ngilu bukan pilu. Ada satu kisah tentang sebuah perjuangan. Tentang sebuah cinta yang tulus namun tak lagi berarti. Tentang pahlawan karena keberuntungan. Maafkan cintaku yang tak sepenuh cintanya untukmu. Maafkan ketidakberdayaanku dalam mempertahankan cintaku padamu. Ini tentang aku, kamu dan mereka. Ini tentang cinta.
                Aku menemukan cinta baru di pertengahan semester awal. Aku mendambakan kabahagiaan dari cinta yang mulai aku tanam. Sesekali aku kembali memungut butir-butir cinta yang mulai hilang termakan kuyang. Ya, Kuyang! Kau tahu apa itu kuyang? Kuyang adalah semacam setan. Setan yang suka menghisap darah orang hamil atau yang baru melahirkan. Ya, entah *kamu, entah *dia, entah *mereka. #Kau. Semua sama saja, suka menghisap daya dari orang yang tak berdaya. Lihat dia! Dia yang baru saja melahirkan, kenapa kau hisap darahnya? Tidakkah sedikit saja kau ikut merasakan kebahagiaan atas lahirnya buah cinta mereka? Bahkan, kau juga tidak sedikit pun mengiba padaku yang baru merasakan manisnya mahligai perkawinan. Aku belum sempat kahwin! Aku belum sempat bunting. Kau juga tega menghisap dayaku. Kau menghisap semua ovum yang belum sempat dibuahi! Belum sempat membentuk  calon anak atas buah cinta dan perjuangan selama ini!
                Awalnya, aku diam dan menurut apa katamu wahai baginda Syah Alam Nan Berkuasa Sejagat Raya Bagundal Sultan Harun Ar-Rasyid yang maha esa. Jangan mendelik! Kamu memang yang maha esa. Kamu adalah “orang” yang maha kuasa. Maha bijaksana. Hatta, maka Qodhi pun diam. Hah! Seolah ada kepalsuan dari sangsi yang diberikan. Nyatanya, ini semua jujur apa adanya. Tentang cinta yang hilang. Tentang kegelisahan. Tentang kekhawatiran. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
            Cinta adalah rasa yang sangat didambakan setiap insan. Termasuk aku! Mencintai dan dicintai adalah sebuah proses yang panjang dan abadi. Namun tidak seabadi pengorbanan cintaku untukmu. Maaf, untuk sekarang, aku meninggalkan bayangmu walau secercah bayang semu. Maaf, untuk tulus cinta yang perlahan melebur dan mulai terkungkung dalam cinta yang baru. Untukmu yang tidak peka, acuh, dan tidak menilik sedikit pun kepadaku, maka aku menjauh dan meninggalkanmu. Ini bukan salahmu. Sekali lagi ini bukan salahmu. Ini adalah wujud ketidakberdayaanku. Ini adalah wujud kegagalanku dalam mempertahankan cintamu. Sekali lagi ini salahku. Ku harap, kau mampu tumbuh dengan kekasih yang baru. Dengan kekasih sejatimu kelak kau akan terlukis meski hanya dalam kalbu.

“Mengapa terjadi, kepada dirimu? Aku tak percaya kau telah tiada. Haruskah ku pergi, tinggalkan dunia. Agar aku dapat berjumpa denganmu.” Senandung yang mampu menjebol selaput di mataku (dulu). Kini, senandung itu aku rubah sebegini adanya. “Mengapa terjadi, kepada dirimu? Aku tak percaya kau telah tiada. Sekarang ku pergi, tinggalkan dunia. Agar aku dapat menunggu cintamu.” (Dalam sujudku, sempat terucap namamu). “Semoga yang terbaik tercurah untukmu”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENYUM

#Senyum. Adalah satu kata indah yang sulit dilakukan tatkala hati gundah. Memang sejatinya senyum itu mudah, tapi senyum manis tidaklah mudah. Senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum yang menggambarkan betapa istimewa saat itu, hingga kita lupa perasaan bersedih. Ya, senyum memang mudah dilakukan, tapi senyum manis adalah pilihan dan tidak mungkin tidak dilakukan. Itu karena, senyum dapat merepresentasikan berbagai macam rasa.   Senyum terklasifikasi menjadi dua, yaitu senyum manis dan senyum kecut. Seperti keterangan di atas, senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum karena perasaan senang. Namun, senyum manis tidak hanya terlihat pada sunggingan bibir yang membentuk bulan sabit, bisa juga disertai air tangis. Itu, seperti senyum seorang tukang becak yang mendapat penumpang setelah menunggu lama sampai beberapa kali tertidur, senyum orang-orang yang tertawa bahagia bersama kawan-kawannya, senyum tangis orang tua tatkala menyambut kepulangan anaknya yang merantau ...

Niat Halal Bi Halal Berujung Ketemu Dr. Aisyah Dahlan di UMS

Berkah ramadan. Sebuah frasa yang patut ku syukuri dari ramadan 1447H dan kurasa perlu diabadikan dalam cetak-cetik Novita ini. hihihi...  Haloha... Eh nongol juga postingan baru di sini. Tandanya apa? Pemilik blogspot ini masih ada di dunia ya... Karena setelah tiga tahun menghilang, ada lagi nih cetak-cetik yang bisa dibaca. Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menuangkan isi kepala, di tengah gedebak-gedebuk dunia yang cukup menyita akal dan tenaga.  Yaaa semoga bisa konsisten nulis lagi, tapi lagi-lagi ngga janji. hihi... Karena jujur, mengekspresikan diri lewat tulisan (semi-privasi) sekarang terasa seperti mendapat tantangan. Apalagi setelah adanya medsos yang memberi wadah untuk mengabadikan momen dengan lebih mudah. Alhasil, isi hati dan pikiran terbungkam, kreativitas dan kemauan menyalurkannya lewat tulisan terpendam. Kegiatan yang dulu menyenangkan dan jadi hobi, lama kelamaan terlupakan. Huft. Oke cukup, sekarang kembali fokus ke judul ya... Senin, 30 Maret 20...