Kembali terngiang oleh dentingan jam
beberapa menit lalu yang tak henti"nya berdecak "Tak, Tik, Tak"
Kini saya meringis mendapati sesosok... Seketika, bayang hitam menengok dari
jendela. Mungkin hanya memastikan sudah tidurkah saya? Ya, saya anggap hanya sebatas
firasat. Firasat yang menyisakan detak jantung yang mendentum dengan cepatnya.
Mungkin hanya sebatas firasat lebih baik dari baik. Ya, saya baik-baik. Sesuatu
yg bergerak lebih cepat dari biasanya mulai kembali biasa. Kini mata menyisakan
tanya tentang tantangan yg entah itu apa? Samar"! Sekarang kembali
terdengar satu lantunan yang entah itu apa. Seperti "Kreeek... Kreeek...
Kreeek" juga desahan dari belakang telinga kiri. Yang saya tahu, saat ini
saya masih menikmati lantunan itu... Yang saya tahu, sore tadi hujan
mengguyur desa ini. Ya, mereka berdendang layaknya tak kenal hawa dan suasana.
Ini sudah lewat tengan malam, dingin dan basah masih menyisakan ruang.
"Kreeeek kreeeek kreeeek" tak terdengar lagi. Bukan karena tak saya
dengar namun dendangan itu tak lagi mendirikan bulu-bulu leher belakang. Katak
berdendang, saling bersautan, mengiramakan syair pengiring tidur yang mulai
terlupakan oleh seorang anak perempuan. Saya. Lalu, angin apa yang meniup
belakang telinga kiri ini? Hanya sebuah filsafat kebatinan yang sedikit
meleburkan keberanian. Sedikit.
#Senyum. Adalah satu kata indah yang sulit dilakukan tatkala hati gundah. Memang sejatinya senyum itu mudah, tapi senyum manis tidaklah mudah. Senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum yang menggambarkan betapa istimewa saat itu, hingga kita lupa perasaan bersedih. Ya, senyum memang mudah dilakukan, tapi senyum manis adalah pilihan dan tidak mungkin tidak dilakukan. Itu karena, senyum dapat merepresentasikan berbagai macam rasa. Senyum terklasifikasi menjadi dua, yaitu senyum manis dan senyum kecut. Seperti keterangan di atas, senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum karena perasaan senang. Namun, senyum manis tidak hanya terlihat pada sunggingan bibir yang membentuk bulan sabit, bisa juga disertai air tangis. Itu, seperti senyum seorang tukang becak yang mendapat penumpang setelah menunggu lama sampai beberapa kali tertidur, senyum orang-orang yang tertawa bahagia bersama kawan-kawannya, senyum tangis orang tua tatkala menyambut kepulangan anaknya yang merantau ...
Komentar
Posting Komentar