Langsung ke konten utama

SENYUM

#Senyum.
Adalah satu kata indah yang sulit dilakukan tatkala hati gundah. Memang sejatinya senyum itu mudah, tapi senyum manis tidaklah mudah. Senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum yang menggambarkan betapa istimewa saat itu, hingga kita lupa perasaan bersedih.
Ya, senyum memang mudah dilakukan, tapi senyum manis adalah pilihan dan tidak mungkin tidak dilakukan. Itu karena, senyum dapat merepresentasikan berbagai macam rasa. 
Senyum terklasifikasi menjadi dua, yaitu senyum manis dan senyum kecut. Seperti keterangan di atas, senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum karena perasaan senang. Namun, senyum manis tidak hanya terlihat pada sunggingan bibir yang membentuk bulan sabit, bisa juga disertai air tangis. Itu, seperti senyum seorang tukang becak yang mendapat penumpang setelah menunggu lama sampai beberapa kali tertidur, senyum orang-orang yang tertawa bahagia bersama kawan-kawannya, senyum tangis orang tua tatkala menyambut kepulangan anaknya yang merantau lama. Ya, banyak sekali senyum di sekitar kita. Pernah tidak kalian memerhatikan nya? 
Senyum kecut, [#intermezo. Btw, kenapa istilahnya senyum kecut ya? Ada juga istilah senyum pahit sih, tapi entah kenapa aku lebih sering mendengar istilah senyum kecut daripada senyum pahit. Nah, tapi kenapa dua istilah itu yang digunakan. Bukan senyum asin. Kok asin? Ya karena manis identik dengan gula, dan jika kita tanya antonim kata gula, maka umumnya dijawab garam bukan asam. Jadi, sebenarnya manis itu antonim asin dong. Ah kesimpulan macam apa ini. Btw, emang benar lawan kata gula itu garam? Lah, gimana sih? Memunculkan pertanyaan yang diri sendiri tidak tahu jawabannya. Mending lanjutin aja. Biarpun sebenarnya umumnya sudah pada tahu apa itu senyum kecutkan?].
Senyum kecut merupakan senyum yang hampa. Ya, bisa dibilang hatinya tidak bahagia. Senyum itu tersungging, mungkin karena hatinya tersinggung, atau karena dibikin bingung #maksabangetsihdiksinya. Senyum kecut itu misalnya nih, udah buat janji mau ketemuan, eh tiba-tiba dia batalin janji. Ya, ekspektasi yang tidak kesampaian. Mau marah ndak enak, mau nangis duh malu, mau ngambek apaan kek anak kecil, jadinya ya milih senyum kecut aja. Seolah terkesan it's ok no problem padahal di dalam hati berlawanan. Lalu bagaimana dengan hari-hari kita yang hambar? Hambar = senang tidak, sedih juga tidak. Pernah tidak sih kalian merasakan hari kalian hambar? Kalau aku sih pernah. Dulu sih aku lalui hari yang hambar dengan gitu-gitu aja, tapi sekarang dibiasakan bersyukur sehingga mendadak terasa lebih bahagia. Berawal dari hanya menulis kata "Alhamdulillah" (karena saya muslim) aja, trus hati jadi bahagia. Anehkah? Tidak. Karena saya yakin setiap kata adalah doa, setiap ucapan itu menyugesti pikiran kita. Jadi, mari kita belajar bicara yang baik, dan tulis yang baik-baik. Terpenting, mari kita selalu sunggingan senyum manis di bibir kita... Mari membahagiakan hari-hari kita dengan selalu bersyukur dan berucap yang baik-baik.
Senyum Itu Ibadah
Mari Tersenyum

#30haribercerita #03Januari2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang cintaku dan cintanya untukmu

Tentang cintaku dan cintanya untukmu                 Awalnya, terasa sulit bagiku untuk memulai ini semua.  Memulai hidup baru dengan kekosongan bukan kenestapaan. Mungkin duka, bukan lara. Ini antara kita. Ya, aku, kau, dan mereka... Tentang cintaku dan cintanya untukmu.  Tentang hati yang terasa sedikit ngilu bukan pilu. Ada satu kisah tentang sebuah perjuangan. Tentang sebuah cinta yang tulus namun tak lagi berarti. Tentang pahlawan karena keberuntungan. Maafkan cintaku yang tak sepenuh cintanya untukmu. Maafkan ketidakberdayaanku dalam mempertahankan cintaku padamu. Ini tentang aku, kamu dan mereka. Ini tentang cinta.                 Aku menemukan cinta baru di pertengahan semester awal. Aku mendambakan kabahagiaan dari cinta yang mulai aku tanam. Sesekali aku kembali memungut butir-butir cinta yang mulai hilang terma...

Niat Halal Bi Halal Berujung Ketemu Dr. Aisyah Dahlan di UMS

Berkah ramadan. Sebuah frasa yang patut ku syukuri dari ramadan 1447H dan kurasa perlu diabadikan dalam cetak-cetik Novita ini. hihihi...  Haloha... Eh nongol juga postingan baru di sini. Tandanya apa? Pemilik blogspot ini masih ada di dunia ya... Karena setelah tiga tahun menghilang, ada lagi nih cetak-cetik yang bisa dibaca. Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menuangkan isi kepala, di tengah gedebak-gedebuk dunia yang cukup menyita akal dan tenaga.  Yaaa semoga bisa konsisten nulis lagi, tapi lagi-lagi ngga janji. hihi... Karena jujur, mengekspresikan diri lewat tulisan (semi-privasi) sekarang terasa seperti mendapat tantangan. Apalagi setelah adanya medsos yang memberi wadah untuk mengabadikan momen dengan lebih mudah. Alhasil, isi hati dan pikiran terbungkam, kreativitas dan kemauan menyalurkannya lewat tulisan terpendam. Kegiatan yang dulu menyenangkan dan jadi hobi, lama kelamaan terlupakan. Huft. Oke cukup, sekarang kembali fokus ke judul ya... Senin, 30 Maret 20...