Langsung ke konten utama
"SEPASANG"
Oleh: Novita D Prasetyowati

Lihat di dekat muara bening di ujung pancaran senja yang masih setia menyala
Sepasang burung terbang, riang, tanpa beban
Terlihat indah bak permadani terbang Sulaiman Allaihi Salaam
Tenang, teduh, tenteram
Iya, tatap kelokan laju mereka, saling mendahului, saling bercanda
Sekali ada seekor burung yang lain, ia sapa, namun tetap saling menjaga, dan tak saling curiga

Lihat sepasang bola bening penghasil cairan tiada berwarna namun berasa
Gurih perisa terasa setelah duka
Ya, mereka memang saling bersanding meski tak saling memandang untuk saling menjaga

Lihat sepasang panjang penjangkar ini
Ia diikuti cabang-cabang kecil disatu ujungnya, yang paling rendah, yang paling bawah
Tapi lihat, cabang yang dikata kecil ini dapat saling bergandengan, berpelukan dan saling memberi kehangatan
Mereka saling bersama meski tak saling disamakan.

Sepasang memang indah
Sepasang selalu terlihat indah
Sepasang tetap yang terindah
Sepasang selamanya menjadi yang paling indah
Meski sepasang tak selamanya menjadi pasangan.


Yogy
akarta, 26 November 2013


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENYUM

#Senyum. Adalah satu kata indah yang sulit dilakukan tatkala hati gundah. Memang sejatinya senyum itu mudah, tapi senyum manis tidaklah mudah. Senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum yang menggambarkan betapa istimewa saat itu, hingga kita lupa perasaan bersedih. Ya, senyum memang mudah dilakukan, tapi senyum manis adalah pilihan dan tidak mungkin tidak dilakukan. Itu karena, senyum dapat merepresentasikan berbagai macam rasa.   Senyum terklasifikasi menjadi dua, yaitu senyum manis dan senyum kecut. Seperti keterangan di atas, senyum manis adalah senyum kebahagiaan, senyum karena perasaan senang. Namun, senyum manis tidak hanya terlihat pada sunggingan bibir yang membentuk bulan sabit, bisa juga disertai air tangis. Itu, seperti senyum seorang tukang becak yang mendapat penumpang setelah menunggu lama sampai beberapa kali tertidur, senyum orang-orang yang tertawa bahagia bersama kawan-kawannya, senyum tangis orang tua tatkala menyambut kepulangan anaknya yang merantau ...

Tentang cintaku dan cintanya untukmu

Tentang cintaku dan cintanya untukmu                 Awalnya, terasa sulit bagiku untuk memulai ini semua.  Memulai hidup baru dengan kekosongan bukan kenestapaan. Mungkin duka, bukan lara. Ini antara kita. Ya, aku, kau, dan mereka... Tentang cintaku dan cintanya untukmu.  Tentang hati yang terasa sedikit ngilu bukan pilu. Ada satu kisah tentang sebuah perjuangan. Tentang sebuah cinta yang tulus namun tak lagi berarti. Tentang pahlawan karena keberuntungan. Maafkan cintaku yang tak sepenuh cintanya untukmu. Maafkan ketidakberdayaanku dalam mempertahankan cintaku padamu. Ini tentang aku, kamu dan mereka. Ini tentang cinta.                 Aku menemukan cinta baru di pertengahan semester awal. Aku mendambakan kabahagiaan dari cinta yang mulai aku tanam. Sesekali aku kembali memungut butir-butir cinta yang mulai hilang terma...

Niat Halal Bi Halal Berujung Ketemu Dr. Aisyah Dahlan di UMS

Berkah ramadan. Sebuah frasa yang patut ku syukuri dari ramadan 1447H dan kurasa perlu diabadikan dalam cetak-cetik Novita ini. hihihi...  Haloha... Eh nongol juga postingan baru di sini. Tandanya apa? Pemilik blogspot ini masih ada di dunia ya... Karena setelah tiga tahun menghilang, ada lagi nih cetak-cetik yang bisa dibaca. Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali menuangkan isi kepala, di tengah gedebak-gedebuk dunia yang cukup menyita akal dan tenaga.  Yaaa semoga bisa konsisten nulis lagi, tapi lagi-lagi ngga janji. hihi... Karena jujur, mengekspresikan diri lewat tulisan (semi-privasi) sekarang terasa seperti mendapat tantangan. Apalagi setelah adanya medsos yang memberi wadah untuk mengabadikan momen dengan lebih mudah. Alhasil, isi hati dan pikiran terbungkam, kreativitas dan kemauan menyalurkannya lewat tulisan terpendam. Kegiatan yang dulu menyenangkan dan jadi hobi, lama kelamaan terlupakan. Huft. Oke cukup, sekarang kembali fokus ke judul ya... Senin, 30 Maret 20...