Mungkin ini bukan pengakuan yang terbaik, mengaku minim ilmu agama disaat orang-orang sedang gencar melakukan perubahan, yang sering disebut dengan “memantaskan diri”. Ya, Sebagai seseorang yang minim agama, aku selalu mengikuti kata hati, lebih memercayai agama Islam yang aku kenal sejak kecil, hingga sekarang. Islam yang menggetarkan hati sampai hari ini.
Hari ini adalah Hari Natal dan itu merupakan hari paling mengkikuk-kan aku sebagai orang yang memiliki beberapa teman nonmuslim. Terlepas dari larangan “tidak boleh berteman dengan orang-orang nonmuslim” dan “tidak boleh mengucapkan selamat atas perayaan umat beragama selain Islam”, tanpa mengurangi kepercayaanku terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabi Muhammad Sallalahu alaihi wasallam, Kitab Suci Al Quran, dan agama Islam, aku masih menjalin hubungan baik (berteman) dengan teman-teman nonmuslimku dan terkadang masih mengucapkan selamat atas perayaan mereka. Niatnya hanya mengucapkan saja, tidak ada niatan lain seperti senang, gembira, bahagia, dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan, karena aku pun tidak tau apa yang mereka rasakan, mengetahui hal-hal tentang perayaan merekapun tidak banyak. Jadi, semua itu merupakan bentuk toleransi yang aku lakukan (akhir-akhir ini toleransi tersebut dikenal dengan sebutan toleransi yang salah atau keliru). Wallahualam... Kebenaran hanya milik Allah SWT.
Tentunya, toleransi tersebut terbentuk dari latar belakangku, baik latar belakang keluarga, pendidikan, dan pengetahuan. Semasa kecil aku mengenal islam dari keluarga biasa bukan keluarga ahli agama. Aku disekolahkan di TK Aisyah, yang muridnya semua beragama Islam. Tidak sama halnya dengan kebanyakan teman SDku yang dari TK Darmawanita (lebih dulu mengenal kebinekaan). Meski begitu, namanya juga anak-anak, kita tidak mengenal apa itu Islam, Kristen, Katholik, Buddha, Hindu, yang kami kenal kami semua adalah teman dan harus baik satu sama lain. Thats it. Pemerolehan pengetahuan agama aku peroleh dari TPQ dan tetangga sebelah rumah (bapak guru agama yang keluarganya baik, setiap malam mengadakan pengajian, baca Al Quran, mengajarkan tata cara salat yang benar, mengajarkan doa-doa, dsb. Banyak anak-anak kecil yang belajar di rumah beliau. Semoga beliau khusnul khotimah. Allahuma Aamiin). Ya, memang keluargaku kurang mengajarkan tentang pendidikan agama dan lebih banyak mengajarkan budi pekerti. Hal ini dikarenakan, latar belakang keluargaku yang juga minim akan ilmu agama (bukan ahli ulama). Kakek dan nenek hanya orang desa yang pada waktu aku masih kecil, masjid di desanya saja hanya ramai saat Ramadhan, dihari-hari biasa sama sekali tidak dipakai untuk salat berjamaah. Karena waktu itu rumah-rumah masih menggunakan lampu yang berbahan bakar minyak tanah (read: tintir) dan belum ada listrik, sehingga warganya jarang ada yang keluar rumah sehabis magrib. Selain itu, lingkungan tersebut tidak ada sumber air, sering terjadi kekeringan, akses keluar-masuk desa sulit dan perekonomian sulit, karena berada di lokasi pegunungan kapur.
Menginjak usia sekolah dasar aku baru mengenal agama lain selain Islam. Selama masa sekolah, aku selalu bersekolah di sekolah negeri. Selain karena sulitnya perekonomian keluarga, juga karena waktu itu sekolah negeri dianggap lebih bagus daripada sekolah swasta, dan alasan yang utama karena dekat rumah. Masa-masa pendidikan Sekolah Dasar merupakan masa-masa yang sulit dilupakan karena saat itulah pertama kali aku mengenal agama lain selain islam, agama kedua yang aku kenal yaitu Agama Kristen. Awalnya semua teman dari kelas satu hingga kelas empat beragama Islam, sampai ketika kelas lima ada seorang teman baru, yang namanya pun sampai sekarang masih aku ingat karena nama itu yang waktu dulu aku anggap paling bagus dibandingkan nama-nama yang lain. Aku anggap paling bagus karena namanya terdengar seperti nama orang luar negeri (sekarang sudah tahu kalau nama tersebut adalah nama baptis). Teman baru tersebut laki-laki, yang waktu dulu sedikit dijauhi, entah karena dia beragama Kristen atau karena anak baru, dan waktu itu aku merasa alasan kedua yang benar.
Sejak kelas 4 atau 5, Kami selalu diajak salat dhuhur berjamaah di masjid yang lokasinya cukup dekat dengan sekolah. Kami semua berjalan kaki melewati lapangan kecil dan jalan sempit di tengah-tengah rumah penduduk. Masjidnya waktu itu aku anggap masjid paling bagus yang pernah aku lihat, karena masjid di desaku dan di tempat TPQku tidak seperti itu. Hihi... Jadi masjid itu ada kotakan seperti kolam kecil yang berisi air, sehingga kami suka berlama-lama merendam kaki di sana. Setelah wudhu, terkadang kami yang perempuan lari-larian karena dikejar anak laki-laki yang jail mau membatalkan wudhu kami. Teman aku yang nonmuslim itu juga ikut ke masjid dan selalu menunggu di beranda masjid sendirian. Waktu wudhu kadang dia ikut melihat. Lalu ketika kelas enam SD, secara mengejutkan teman baruku tersebut berganti agama menjadi seorang muslim, padahal setahuku kedua orang tuanya waktu itu masih beragama Kristen (lupa). Waktu itu, tiba-tiba temanku itu datang bersama kedua orang tuanya dan mengumumkan kalau temanku sudah beragama islam, kami diberi syukuran nasi kardus, dan untuk pertama kalinya dia dipanggil dengan nama muslim, aku lupa, seingatku di dalam nama dia ada nama Muhammad. Lalu waktu kelas enam, ada murid baru lagi dan beragama Kristen/Katholik aku lupa. Kali ini kakak (laki-laki) dan adik (perempuan). Nama merekapun masih aku ingat jelas sampai sekarang, karena waktu itu aku cukup dekat dengan si adik. Kakak beradik itu lebih pendiam dibandingkan teman baru kami yang sebelumnya. Namun, kami selalu berteman baik satu dengan yang lainnya, tidak membeda-bedakan, meskipun agama Kami berbeda.
Semasa Sekolah Menengah Pertama, aku berada di kelas 7B Kelas 7A dan 7B adalah kelas yang juga diisi dengan anak-anak yang beragama nonmuslim. Jadi waktu kelas 7 aku kembali berinteraksi dengan teman-teman nonmuslim dan Kami tidak saling mencela satu dengan yang lain. Kelas 8 aku berada di kelas A, dan di sini aku kembali berinteraksi dengan teman-teman nonmuslim. Sewaktu kelas 8, guru agamaku pun mengajak Kami keliling sekitar Keraton Surakarta. Kami naik bus, ke pasar gede dan masuk ke klenteng, melihat lilin-lilin berwarna merah berbagai ukuran, dupa dsb. Kami jalan-jalan ke suatu perkampungan yang sedang puasa tidak keluar rumah seharian, tidak melakukan rutinitas di luar rumah, Kami juga masuk ke gereja, berkeliling melihat ukiran-ukiran bunda Maria dan kisah Nabi Isa di dinding-dindingnya, melihat mangkuk berisi air di dekat pintu yang katanya ketika hendak masuk gereja tangan harus dimasukkan ke air tersebut untuk mensucikan diri. Kegiatan itu adalah kegiatan luar biasa yang masih saja teringat hingga sekarang. Kelas 9 aku berada di kelas B, dan teman-teman nonmuslim dari kelas A berada di kelas 9A dan masih berdekatan, Kami pun masih berteman hingga sekarang. Waktu sekolah di Sekolah Menengah Atas, seperti sebelumnya aku sekelas dengan teman-teman yang tidak semuanya muslim. Kali ini aku berkenalan dengan teman yang beragama Buddha dan Hindu juga. Kami saling kompak, dan sampai saat ini Kami berteman baik, tidak ada membeda-bedakan atau menjauh karena perbedaan agama. Waktu kuliahpun aku juga berteman dengan teman-teman nonmuslim dan all is well. Semua baik-baik saja sampai saat ini. Aku berteman dengan teman beragama Kristen, Katholik, Hindu, dan Buddha, sedikit banyak mengenal agama mereka. Kesemuanya mengajarkan tentang kebaikan dan kerukunan. Jadi, untuk tidak berteman dengan teman-teman nonmuslim itu sangat sulit bahkan mungkin tidak bisa untuk dilakukan. Dan bila alasan utama karena keyakinan, Alhamdulillah dari dulu hingga sekarang keyakinan aku masih pada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, Kitab Al Quran, dan Agama Islam. Alhamdulillah. Ya tapi memang masih seperti ini. Masih berjabat tangan dengan yang bukan makhromnya (karena tidak terbiasa, dari kecil kalau ada orang yang lebih tua jabat tangan, malah kadang cium tangan, sama teman ya biasa, menyentuh tangan tidak kenapa-kenapa, tidak lantas jatuh cinta). Lantas, masih pantaskah aku disebut seorang muslim yang taat? Aku hanya seorang muslim yang berperasaan. Orang lain dapat menilai seseorang sesuka mereka, hanya saja Allah-lah Sang Maha Mengetahui niat yang ada di dalam hati kita. Tetap berperilaku baik, menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim dan seorang manusia yang memanusiakan manusia.:)
CC : https://wordpress.com/post/novitadprasetyowati.wordpress.com/89
Sumber : http://nachabu.ilmci.com/5398/06/cara-menghayati-pancasila-sebagai-pandangan-hidup-bermasyarakat-bernegara.aspx /25/12/2017/20:15

Komentar
Posting Komentar